Sumedang Online


Berita Dari Sumedang

Ditulis dalam Tak Berkategori oleh sumedangonline pada 22 MeiamSat, 03 May 2008 09:51:26 +0000UTC31 2008

Peringatan Hardiknas 2008 di Sumedang
Ditandai Penyerahan Penghargaan Prestasi
SUMEDANG – Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2008 tingkat Kabupaten Sumedang, Jabar, ditandai dengan penyerahan sejumlah penghargaan bagi siswa/i beprestasi maupun pengelola pendidikan hingga aktivis Gerakan
Pramuka. Upacara Hardiknas tersebut digelar di Alun-Alun Sumedang, Jum’at (2/5).
Upacara Peringatan Hardikdas 2008 tersebut dipimpin Sekda Sumedang H Atje Arifin Abdullah, SH, SIP, MSi. Hadir dalam kesempatan ini di antaranya Unsur Muspida, Ketua DPRD Taufiq Gunawansyah, SIP juga undangan lainnya.
Usai pembacaan sambutan tertulis Mendiknas, Sekda Sumedang menyerahkan penghargaan atas prestasi yang diperoleh siswa/i PAUD, TK, SD,SMP hingga SLTA asal Sumedang baik di tingkat lokal, regional maupun nasional.
Para pelajar yang memperoleh penghargaan tadi masing-masing: Fadhil Nur Rasyid (TK Trisula Sumedang Selatan) Juara I Lomba Kreativitas Anak TK tingkat Kabupaten Sumedang; Gugus Wardah (TK Plus Al-Misbach Tanjungsari) Juara I Lomba Gugus TK tingkat Kabupaten Sumedang.
Kelompok Belajar Linuhung (Dusun Sadang RT 06/RW 09, Desa Mandalaherang, Cimalaka) Juara I Lomba Keteladanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tingkat Kabupaten Sumedang; Dra Apong Siti Maemunah (Pendidik Kelompok Belajar Bina Harapan Desa Mandalaherang, Cimalaka) Juara I Lomba Keteladanan Pendidik PAUD tingkat Kabupaten Sumedang.
Selain itu, Dwiki Darmawan (SMON 2 Sumedang) Siswa
Berprestasi Tngkat SMP; Riqo Fathurizqi (SDN Sukaraja II) Siswa Berprestasi Tingkat SD/MI); Asep Lesmana (SDN Ciuyah II, Cisarua) Juara I Matematika pada Olimpiade MIPA SD.
Yudi Apriadi R(SDN Nanggerang Sukasari) Juara I IPA pada Olimpiade MIPA SD; Fitri Agung (SDN Licin, Cimalaka) Juara I Festival Baca Puisi; Heru Suryadi (SDN Karapyak I) Juara I Festival Kerajinan Tangan; Anisa Kantia Friatna (SDN Cimalaka II) Juara I Festival Melukis; dan Cindy Mellani (SDNLicin Cimalaka) Juara I Festival Solo.
Noviyantini (SMAN 2 Cimalaka) Juara I Cabang Atletik 200 meter Putri tingkat Jabar 2007); Ansa Nitasari (SMAN 2 Cimalaka) Juara Lompat Jauh Putri antar Pelajar se Jawa-Bali 2007).
Yanti Susanti (SMK YPPS) Juara I Lomba Busana; Anny Hendrayani (SMK Ma’arif) Juara I Lomba Sekretaris. Enam siswa SMKN 2 Sumedang yakni Entin Hartini Juara I Lomba Rekayasa Perangkat Lunak; Rosminar Juara I Lomba Penjualan; Dede Iyar Juara I Lomba Akuntasi.
Wina Rianti Juara Debat Bahasa Inggris; Mulyadi Juara Debat Bahasa Inggris; dan Miki Sunarman Juara Debat Bahasa Inggris. Sementara itu Dadah Nasrlloh (SMKN I Sumedang) Juara Tekni Bangunan; Abdul Kholik Sobari (SMKN I Sumedang) Juara Teknik Elektro.
Rohmana siswa kelas III SMK Ma’arif Sumedang Juara Lomba Teknik Instalasi; Dede Priatna siswa kelas III SMK Pemuda Juara Lomba Teknik Otomotif; dan Una Wijaya siswa kelas III SMK YPSA Juara Lomba Teknik Permesinan.
Sekda Sumedang H Atje Arifin Abdulah, menyebutkan perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan demikian besar dari mlai pengembangan SDM tenaga pendidik hingga sarana atau fasiltas belajar-mengajar.
Karenanya, IPM bidang pendidikan di Kota Tahu ini, kian hari kian meningkat dan bahkan telah mampu meraih prestasi dalam program Wajar Dikdas Sembilan Tahun.
Terbukti dengan diraihnya penghargaan di tingkat nasional.
Atas prestasi yang dicapai siswa/i maupun kalangan dunia pendidikan, Sekda atas nama Bupati Dr H Don Murdono, SH, MSi menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tinginya atasjerih payah dalam upaya mengembangkan dunia pendidikan ini.
Sementara itu, Ketua PGRI Sumedang Drs E Sukandi ketika ditemui, menyebutkan bahwa prestasi yang dicapai para siswa tersebut merupakan buah dari kerja keras kalangan pendidik.
Karenanya, Andi, demikian panggilan akrab Ketua PGRI Sumedang ini, menyampaikan penghargaan atas perhatian dan kerja keras para guru sehingga bisa membuahkan hasil yang cukup menggembirakan.***
Ditulis oleh: EndyNews

Terkait Rapel Tunjangan Tenaga Kependidikan 2007

PGRI Suatu Waktu Bakal Gugat Pemkab Sumedang
Sekda, “Silahkan Gugat, Nanti Kita Gugat Balik”

SUMEDANG, Sumedang Online – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Sumedang, Jabar, menduga Bupati Sumedang telah melakukan penggelapan Dana Tunjangan Tenaga Kependidikan TA 2007. Karenanya, PGRI berencana suatu waktu akan menggugat Bupati Sumedang.
Penegasan tersebut dilontarkan Drs E Sukandi, MM, Ketua PGRI Sumedang usai mengikuti Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tingkat Kabupaten Sumedang di Alun-Alun, Jum’at (2/5).
Menurut Andi – panggilan akrab Ketua PGRI – pihaknya memang mendengar aspirasi dari kalangan guru yang menyesalkan kebijakan Bupati Dr H Don Murdono, SH, MSi karena ternyata dana tunjangan tenaga kependidikan TA 2007, tak dibayarkan secara keseluruhan.
“Padahal dana dari pusat sudah turun dan sudah masuk ke dalam Kas Daerah, kenapa nggak dibayarkan saja. Persoalan ini menimbulkan dugaan-dugaan jangan-jangan dana yang menjadi hak para guru itu digelapkan Pemkab Sumedang,” katanya serius.
Menurut Andi, Bupati tak sepantasnya menahan-nahan rapel tunjangan tenaga kependidikan ini. Soalnya, pemerintah pusat (Mendiknas, red) sudah menggulirkan dana tersebut sejak 2007.
“Terus terang kami kecewa. Karenanya, suatu waktu dan saya katakan suatu waktu PGRI Sumedang akan menggugat bupati atas penggelapan ini,” tegas Andi.
Gugat Balik
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Sumedang H Atje Arifin Abdullah, SH, SIP, MSi ketika ditemui secara terp

Berita Dari Sumedang

Ditulis dalam Tak Berkategori oleh sumedangonline pada 22 MeiamSat, 03 May 2008 09:37:58 +0000UTC31 2008

RS Pakuwon Sumedang, Kini Genap Berusia 7 Tahun

SUMEDANG – Rumah Sakit (RS) Pakuwon di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Rabu 30 April 2008, genap berusia 7 tahun. Satu-satunya rumah sakit swasta di Kota Tahu ini, bukan hanya penampilannya yang kian “wah” tetapi justru pelayanannya kian meningkat dan telah mampu membangun kepercayaan masyarakat.
Maklum saja, pendiri RS Pakuwon ini tak lain adalah dr H Noerony Hidaya, mantan Direktur RSUD Sumedang dan juga mantan Direktur RS Al Ikhsan Bandung.
Itulah sebabnya, dengan sarana dan fasilitas pelayanan, seperti rawat jalan meliputi Klinik Umum, Klinik Gigi, Klinik Fisoterapi, Klinik Spesialis penyakit dalam, penyakit anak, bedah, syaraf, THT, kulit dan kelamin.
Selain itu Pelayanan Siaga 24 jam yakni pelayanan Gawat Darurat, Ambulance dan laboratorium.Pelayanan penunjang lainnya berbentuk Depo Farmasi, Pemeriksaan Laboratorium.
Pelayanan Tindakan Medik Operatif yakni bedah umum; bedah gigi dan mulut; bedah THT; dan ODS(one day surgery). Pelayanan penunjang diagnostik yakni X-Ray; CT-Scan; Panaromic; USG; EKG; dan Fisioterapi. Dan, Pelayanan Khusus meliputi High Care Unit (HCU); Medical Check Up; Pemeriksann Calon Haji; Screening Test; Depo Farmasi; dan Unit Diabetes.
“Alhamdulillah, perkembangan RS Pakuwon dari tahun ke tahun semakin baik dan kpercayaan masyarakat terus meningkat baik dari dalam kota maupun luar kabupaten,” kata dr H Noerony.
Diakui, untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat tersebut memang dirasakan cukup memerlukan perjuangan panjang. “Tetapi yang paling pokok adalah niat kita untuk beribadah kepada Alloh SWT. Ini modal yang paling utama,” jelasnya.
Menurut dr Noreony, dengan mengandalkan gaji pensiun dan kegiatan praktek sebagai dokter umum, ia sebenarnya bisa mencukupi kebutuhan keluarga.
“Cuma saya ingin berbuat sesuatu kepada masyarakat terutama di bidang pelayanan kesehatan. Alhamdulillah, selain bisa ikut dalam upaya pelayanan kesehatan juga bisa menampung tenaga kerja,” ungkapnya.
Dijelaskan, RS Pakuwon adalah salah satu sarana yang dapat menggali potensi peran serta masyarkat dalam menyelenggarakan pembangunan di bidang kesehatan.
Terbukti, dalam membantu program pemerintah dalam penyaluran tenaga kerja dari berbagai disiplin ilmu, pelayanan yang diberikan RS Pakuwon, dilandasi dengan motto IKHSAN.
Lebih jauh dijelaskan, IKHSAN berarti Ilmu yang dilandasi keianan dalam memberikan pelayanan kesehatan sehingga dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kualitas Pelayanan yang diberikan adalah yang terbaik sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan untuk menjamin kesembuhan pasien. Hemat dalama memenuhi proses penyembuhan pasien.
Salam, Senyum, Sabar, Sopan Santun, Sensitif, adalah sikap yang diutamakan dalam setiap pelayanan. Asri dan Aman dengan lingkungan yang indah, berih dn tertib di lingkungan perawatan. Nyaman Pelayanan perawatan serasa di rumah sendiri.
Sedangkan fsilitas Rawat Inap Kelas VIP+; Kelas VIP; Kelas I; Kelas II; Kelas III; dan HCU. “Mudah-mudahan saja keberadaan RS Pauwon ini bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan,” kata dr Noerony.
Puncak acara peringatan HUT ke-7 RS Pakuwon yang digelar di Graha Insun Medal (GIM) ini dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) Sumedang H Atje Arifin Abdullah, SH, SIP, MSi dan sejumlah pejabat di Lingkungan Pemkab Sumedang.
Tentu saja, sebagai bentuk syukuran, RS Pakuwon membagi-bagikan puluhan paket Sembilan Bahan Pokok (Sembako) bagi masyarakat yang kurang beruntung dalam perekonomian.
Selain itu dalam peringatan Ultah RS Pakuwon tahun 2008 ini, diselenggarakan pula kegiatan Donor Darah, bekerjasama dengan PMI Cabang Sumedang.
Menurut Sekda H Atje Arifin Abdullah, Pemkab sangat mendukukung upaya yang dilakukan RS Pakuwon. Bahkan,
keberadaannya justru sangat dibutuhkan masyarakat.
“Memang kepercayaan masyarakat ini yang perlu diperlihara dan ditingkatkan dengan tetap mengedepankan pelayanan yang terjangkau masyarakat,” katanya.***EndyNews

LPKPS3 hanya Lembaga Pengkajian
Fasilitaor Pemerintan dan Msyarakat

SUMEDANG – Berdirinya LPKPS3 (Lembaga Pengkajian Kebijakan Pemerintah Sumedang Sehat Sejahtera) jangan buru-buru dicurigai. Sebab lahirnya lembaga ini justru untuk
menjadi fasiltator antara aspirasi masyarakat dan Pemkab.
Hal itu dilontarkan dr Noerony Hidayat, saat launching LPKPS3 di sela-sela peringatan HUT ke-7 Rumah Sakit Pakuwon, Sumedang, Jawa Barat di GIM, Rabu (30/4).
Diakui, sejak diirikannya LPKPS3 5 April 2008 ini, telah ada yang memberikan komentar yang menilai bahwa lembaga ini hanya ditujukan untuk mengkritisi kebijakan pemerintah daerah.
Di hadapan undangan Ultah RS Pakuwon yang dihadiri pula Ketua DPRD Sumedang (non aktif) Taufiq Gunawansyah, SIP (saat ini telah menjadi Calon Wakil Bupati Sumedang Terpilih), Sekretaris Daerah H Atje Arifin Abdullah, SH, SIP, MSi dan sejumlah pejabat teras Pemkab, dr Noerony mencoba meluruskan penilaian tentang LPKPS3 ini.
Dijelaskan, LPKPS3 yang dipimpinnya ini merupakan organisasi kemasyarakatan, bukan organisasi politik dan tidak menjalankan kegiatan politik praktis.
Lebih jauh dr Noerony mengatakan, bahwa LPKPS3 didirikan dengan tujuan yang jelas, yakni melakukan pengkajian terhadap semua kenijakan yang ditetapkan pemerintah. Melakukan penelitian dan menelaah hingga sejauhmana kebijakan pemerintah bermanfaat bagi masyarakat.
Selain itu, lanjutnya, mendorong masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam prgram-program pemerintah dalam bidang kesehatan, pem

Dakhwah Visual Pengajian Karang Taruna RW 05 Perum Asabri Sindang Tamansari Sumedang

Ditulis dalam Tak Berkategori oleh sumedangonline pada 22 AprpmSat, 26 Apr 2008 23:54:25 +0000UTC30 2008

SUMEDANG – Kegiatan pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna RW 05 Perum Asabri Sindang Tamansari di Desa Jatimulya, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, Jabar, terbilang luar biasa.
Tengok saja kegiatan seksi pembinaan agama Islam, sejak tahun 2000 hingga sekarang mampu mempertahankan kegiatan pengajian rutin setiap malam Minggu yang dipusatkan di Mesjid Al Ikhlas, Perum Asabri Sindang Tamansari.
Pengajian disini tampaknya lebih modern. Soalnya, di samping diisi khutbah dari beberapa Ustadz, juga senantiasa membahas isu-isu yang mejadi sorotan publik, terututama yang terkait masalah generasi muda dan Islam.
Aria Auora, Ketua Karang Taruna RW 05 Perum Asabri Sindang Tamansari ketika ditemui endynews, Sabtu (26/4) malam, menjelaskan salah satu kegiatan karang taruna yang dipimpinnya, memang sejak tahun 2000 telah menggelar “dakwah visual”.
“Artinya, kita tidak hanya mengisi rohani melalui dakwah para ustadz, namun kita tampilkan beberapa issue central terutama yang menyangkut Islam,” katanya.
Menurut dia, para pemuda di Lingkungan Perum Asabri, sengaja diperkenalkan dengan berbagai tantangan Islam melalui bukti-bukti visual (video) yang ditayangkan mempergunakan TV atau in focus.
“Kita ingin memperlihatkan betapa kuatnya provokasi untuk menghacurkan ummat Islam khususnya kalangan muda. Misalnya saja, malam minggu lalu kita putar video film Fitna. Kita bahas bersama-sama,” paparnya.
Pada Sabtu (26/4) malam pun pengajian yang menampilkan Ustadz Moch Irfan, SPd, Ustadz M Insan Abdurohman, SAg, pada sesi teraikir dipertontonkan film dokumenter aliran-aliran atau pemikiran-pemikiran yang merusak aqidah generasi muda Islam khususnya di Tanah Air.
“Disana kita bukan hanya menonton bukti-bukti dahsyatnya tantangan bagi ummat, melainkan kita bahas bersama nara sumber bagaimana seharusnya para pemuda remaja mesjid Al Ikhlas khususnya bersikap,” tandasnya.
Pengajian atau “dakwah visual” ini, terang Aria, justru mendapat dukungan dari pengurus DKM Al Ikhlas yang dipimpin Drs H Zaenal Alimin MM, juga masyarakat RW 05 Perum Asabri Sindang Tamansari.
Diakui, perjalanan pengajian Karang Taruna RW 05 ini, memang mengalami pasang surut dalam kuantitas kehadiran pemuda dalam pengajian ini.
“Yang pasti, melalui kegiatan olahraga dan pengajian ini, pemuda disini bisa menyatu dan memiliki dasar-dasar agama yang kuat. Alhamdulillah, setiap ada permasalahan pemuda atau masyarakat, kita bahas bersama untuk menyikapinya,” ungkap Aria.
Di bagian lain disebutkan, pada pengajian tersebut diakhiri dengan Do’a Bersama atas suksesnya Pemilihan Bupati/Wakil Bupati (Pilbup) Sumedang, 13 April 2008 lalu, yang dimenangkan pasangan H Don Murdono – Taufiq Gunawansyah (Don-Top).
“Bagi kami siapapun yang memimpin Sumedang, kita serahkan kepada Alloh SWT. Sekarang yang menang Don-Top, ya kita ucapkan selamat,” paparnya.
Karenanya, dalam pengajian tersebut para pemuda Karang Taruna 05 tentu saja berharap kepada Alloh SWT, agar dalam era kepemimpinan Do-Top – periode 2008 – 2013 -
masyarakat Sumedang bisa lebih maju dan sejahtera.
“Kita berharap pula kepada pasangan Don – Top bisa lebih serius memperhatikan generasi muda. Sebab, bagaimanapun kaum muda adalah calon-calon pemimpin di masa mendatang, tolong perhatikan kami,” harapnya.
Kepengurusan Karang Taruna RW 05 Perum Asabri Sindang Tamansari: Aria Aurora (Ketua); Syaeful Rohmat (Sekretaris); Riskeu Yunita (Bendahara).
Linga Quasar Graha (Sie Pembinaan Agama Islam); Wahyu (Sie Sepakbola); Farid (Sie Bolavoli); Diki, Ede, Mul dan Adit (Sie Umum). *** endynews

22 April 2008 Aumedang Genap Berusia 430 Tahun

Ditulis dalam Tak Berkategori oleh sumedangonline pada 22 ApramMon, 21 Apr 2008 08:22:13 +0000UTC30 2008

SUMEDANG KOTA KAMELANG KINI GENAP BERUSIA 430 TAHUN
LAMBANG Kabupaten Sumedang, LINGGA, diciptakan oleh R Maharmartanagara, putra seorang Bupati Bandung Rd Adipati Aria Martanegara, keturunan Sumedang. Lambang ini diresmikan menjadi lambang Sumedang pada tanggal 13 Mei 1959.
Hal-hal yang terkandung pada logo LINGGA:
1. PERISAI : Melambangkan jiwa kesatria utama, percaya
kepada diri sendiri
2. SISI MERAH : Melambangkan semangat keberanian
3. DASAR HIJAU : Melambangkan kesuburan pertanian
4. BENTUK SETENGAH BOLA DAN BENTUK
SETENGAH KUBUS PADA LINGGA : Melambangkan
bahwa manusia tidak ada yang sempurna
5. SINAR MATAHARI : Melambangkan semangat dalam
mencapai kemajuan
6. WARNA KUNING EMAS : Melambangkan keluhuran
budi dan kebesaran jiwa
7. SINAR YANG KE 17 ANGKA : Melambangkan Angka
Sakti tanggal Prroklamasi Kemerdekaan Republik
Indonesia
8. DELAPAN BENTUK PADA LINGGA : Lambang Bulan
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
9. 19 BUAH BATU PADA LINGGA, 4 BUAH KAKI
TEMBIK DAN 5 BUAH ANAK TANGGA : Lambang
Tahun Proklamasi Kemerdekaan Repubil Indonesia
Tahun 1945
10.TULISAN INSUN MEDAL : Tulisan Insun Medal erat
kaitannya dengan kata Sumedang yang mengandung
arti:
a. Berdasarkan Prabu TADJIMALELA, seorang tokoh
legendaris dalam sejarah Sumedang, INSUS MEDAL
berarti (INSUN : Aku, MEDAL : Keluar)
b. Berdsarkan data di Museum Prabu GESUSAN ULUN;
INSUN berrti (INSUN: Daya, MADNANGAN: Terang)
Kedua pengertian ini bersifat mistik.
c. Berdasarkan keterangan Prof. ANWAS ADIWILAGA,
INSUN MEDAL beasal dari kata SU dan MEDANG
(SU: bagus dan MEDANG: sejenis kayu yang bagus
pada Jati yaitu huru yang banyak tumbuh di Sumedang
dulu), dan pengertian ini bersifat etimologi
Inilah sekedar Selayang Pandang Kabupaten Sumedang, yang pada hari Selasa 22 April 2008, genap berusia 430 tahun. Disi saya coba urai sejarah singkat Sumedang.
Menurut Bujangga Manik, di dekat Gunung Tompo Omas terdapat Kerajaan Kahiyangan, yang diserang pasukan Cirebon dalam masa pemerintahan Surawisesa.
Belum jelas, adakah hubungan antara Medang Kahiyangan dan Sumedanglarang. Namun pada sat Bujangga Manik memasuki Medang Kahiyangan, menurut versi lainnya, saat itu sudah terdapat kerajaan yang disebut Sumedanglarang.
Dalam Koropak 410 disbutkab, Pendiri Kerajaan Sumedanglarang tak lain adalah Praburesi Tadjimalela. Ia berkedudukan di Tembong Agung yang disebut Mandala Hibar Buana.
Masih belum jelas pula asa-usulnya tokoh Legendaris leluhur Sumedang ini. Sebab, Tadjimalela adalah nama lain dari Panji Romahyang, putra Damung Tabela Panji Ronajaya dari Dayeuh Singapura (Rintisan Penelusuran silam sejarah Jawa Barat).
Sumber lain menjelaskan, baik Kitab Waruga Jagat, Layang Darmaraja, maupun riwayat yang berdasarkan tradisi lisan yang masih hidup, disebut kan bahwa Prabu Tajimalela adalah putra Prabu Guru Aji Putih, salah seorang keturunan raja Galuh yang masih bersaudara dengan Sribaduga Maharaja I. Ia melakukan petualangan hingga ke kawasan Timur sekitar pinggiran Sungai Cimanuk.
Prabu Tajimalela masih memiliki sejumlah nama, antara lain: Praburesi Agung Cakrabuana, Batara Tuntang Buana, dan Aji Putih. Dalam Waruga Jagat yang telah disalin dari huruf Arab ke dalam tulisan latin (1117 H), antara lain dikatakan: “Ari putrana Sang Dewa Guru Haji Putih, nyaeta Sang Aji Putih.”
Kehadiran Prabu Guru Haji Putih melahirkan perubahan-perubahan baru dalam kemasyarakatan, yang telah dirintis sejak abad ke-8 oleh Sahyang Resi Agung. Secara perlahan dusun-dusun di sekitar pinggiran sungai Cimanuk itu diikat oleh suatu struktur pemerintahan dan kemasyarakatan hingga berdirilah keajaan Tembong Agung yang merupakan cikal bakal Kerajaan Sumedanglarang. Kerjaan Tembong Agung tersebut, menurut riwayat teletak di Kampung Muhara, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.
Prabu Guru Haji Putih berpytra Praburesi Tajimalela. Berdasarkan perbandingan generasi dalam Koropak 410 Tajimalela sejajar dengan tokoh Ragamulya (1340-1350) penguasa di Kawali dan tokoh Suryadewata, ayahada Batara Gunung Bitung di Majalengka.
Memang belum diperoleh keterangan sumber yang menyebut-nyebut siapa grangan istri Sang Praburesi Tajimalela. Namun demikian, dalam beberapa sumber baik lisan maupun tertulis, dikatakan Praburesi Tajimalela mempunyai dua orang putra: Prabu Gajah Agung dan Lembu Agung.
Tahta kerajaan Sumedang Larang dari Prabu Tajimalela dilanjutkan oleh putranya bernama Atmabrata yang lebih dikenal dengan sebutan Gajah Agung yang berkedudukan di Cicanting.
Kisah awal raja ini memang mirip dengan kisah awal Kejaraan Mataram. Menurut versi Babat Tanah Jawi, antara Ki Ageng Sela dengan Ki Ageng Pamanahan, KiAgeng Sela memetik dan menyimpan buah kelapa muda, lalu ia pergi. Datang Ki Ageng Pamanahan yang kemudia meminumnya. Maka kemudian yang menjadi raja Ki Ageng Pamanahan.
Demikian pula dalam naskah Layang Darmaraja, yangmengisahkan Prabu Lembu Agung dan Gajah Agung yang melanjutkan tahta kepemeimpinan dari Praburesi Tajimalela.
Dikishkan, pada suatu ketika Prabu Tajimalela memanggil kedua putra kembarnya Lembu Gung dan Gajah Agung. Prabu Tajimalela berkata kepada mereka agar ada di antara salah seorang putranya ini yang bersedia melanjutkan kepemimpinannya.
“Adinda, adindalah kiranya yang lebih tepat menjadi raja,” ujar Lembu

Ditulis dalam Tak Berkategori oleh sumedangonline pada 22 ApramMon, 21 Apr 2008 07:28:00 +0000UTC30 2008

Dedi, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Cisurat, Kecamatan Wado.***
Harapkan Bantuan Penataan Situs PGA
Sejak 2002 Warga tetap Menunggu
SUMEDANG – Sudah bertahun-tahun menunggu uluran tangan dari pemerintah, ternyata hingga kini belum juga ada realisasinya. Lihat saja situs Prabu Gajah Agung (PGA) di Desa Cisurat, Wado, penataannya apa adanya sehingga belum memiliki tempat berteduh bagi para peziarah.
Tak bisa disangkal, makam keramat leluhur Sumedang ini tak sedikit mendapat kunjungan dari peziarah dari dalam maupun luar Sumedang.
“Karenanya, sudah lama masyarakat Cisurat mengajukan permohonan untuk melaksanakan penataan di makam leluluhur Sumedang,” kata Dedi, Ketua BPD Desa Cisurat, Jumat (18/4).
Diakui, sudah belasan tahun lamanya masyarakat menunggu datangnya bantuan pemerintah untuk melaksanakan penataan makam ini yang memiliki luas sekitar 1 hektare ini.
Karena bantuan tak kunjung tiba, akhirnya masyarakat secara bergotongroyong membangun tempat penampungan pengunjung. “Walaupun sederhana, tetapi yang penting pengunjung bisa nyaman,” kata Dedi.
Menurut dia, dengan penataan makam kemarat, diyakini bisa menarik wisata untuk melihat dari dekat bagaimana situs PRabu Gajah Agung.
“Cuma itu baru angan-angan saja. Kami harapkan, Pak Bupati (H Don Murdono, red) bisa meluncurkan bantuannya untuk melestarikan situs disini, soalnya kemampuan masyarakat sangat terbatas,” ungkapnya.***
 

Ditulis dalam Tak Berkategori oleh sumedangonline pada 22 AprpmSun, 20 Apr 2008 21:58:00 +0000UTC30 2008

Logo LINGGA tampak berada di atas Gedung Negara, tempat kediaman resmi Bupati Sumedang. Hari Selas 22 April 2008, tepat berusia 430 tahun.
SUMEDANG KOTA KAMELANG KINI GENAP BERUSIA 430 TAHUN
 
LAMBANG Kabupaten Sumedang, LINGGA, diciptakan oleh R Maharmartanagara, putra seorang Bupati Bandung Rd Adipati Aria Martanegara, keturunan Sumedang. Lambang ini diresmikan menjadi lambang Sumedang pada tanggal 13 Mei 1959.
Hal-hal yang terkandung pada logo LINGGA:
1. PERISAI : Melambangkan jiwa kesatria utama, percaya
kepada diri sendiri
2. SISI MERAH : Melambangkan semangat keberanian
3. DASAR HIJAU : Melambangkan kesuburan pertanian
4. BENTUK SETENGAH BOLA DAN BENTUK
SETENGAH KUBUS PADA LINGGA : Melambangkan
bahwa manusia tidak ada yang sempurna
5. SINAR MATAHARI : Melambangkan semangat dalam
mencapai kemajuan
6. WARNA KUNING EMAS : Melambangkan keluhuran
budi dan kebesaran jiwa
7. SINAR YANG KE 17 ANGKA : Melambangkan Angka
Sakti tanggal Prroklamasi Kemerdekaan Republik
Indonesia
8. DELAPAN BENTUK PADA LINGGA : Lambang Bulan
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
9. 19 BUAH BATU PADA LINGGA, 4 BUAH KAKI
TEMBIK DAN 5 BUAH ANAK TANGGA : Lambang
Tahun Proklamasi Kemerdekaan Repubil Indonesia
Tahun 1945
10.TULISAN INSUN MEDAL : Tulisan Insun Medal erat
kaitannya dengan kata Sumedang yang mengandung
arti:
a. Berdasarkan Prabu TADJIMALELA, seorang tokoh
legendaris dalam sejarah Sumedang, INSUS MEDAL
berarti (INSUN : Aku, MEDAL : Keluar)
b. Berdsarkan data di Museum Prabu GESUSAN ULUN;
INSUN berrti (INSUN: Daya, MADNANGAN: Terang)
Kedua pengertian ini bersifat mistik.
c. Berdasarkan keterangan Prof. ANWAS ADIWILAGA,
INSUN MEDAL beasal dari kata SU dan MEDANG
(SU: bagus dan MEDANG: sejenis kayu yang bagus
pada Jati yaitu huru yang banyak tumbuh di Sumedang
dulu), dan pengertian ini bersifat etimologi
 
Inilah sekedar Selayang Pandang Kabupaten Sumedang, yang pada hari Selasa 22 April 2008, genap berusia 430 tahun. Disi saya coba urai sejarah singkat Sumedang.
Menurut Bujangga Manik, di dekat Gunung Tompo Omas terdapat Kerajaan Kahiyangan, yang diserang pasukan Cirebon dalam masa pemerintahan Surawisesa.
Belum jelas, adakah hubungan antara Medang Kahiyangan dan Sumedanglarang. Namun pada sat Bujangga Manik memasuki Medang Kahiyangan, menurut versi lainnya, saat itu sudah terdapat kerajaan yang disebut Sumedanglarang.
Dalam Koropak 410 disbutkab, Pendiri Kerajaan Sumedanglarang tak lain adalah Praburesi Tadjimalela. Ia berkedudukan di Tembong Agung yang disebut Mandala Hibar Buana.
Masih belum jelas pula asa-usulnya tokoh Legendaris leluhur Sumedang ini. Sebab, Tadjimalela adalah nama lain dari Panji Romahyang, putra Damung Tabela Panji Ronajaya dari Dayeuh Singapura (Rintisan Penelusuran silam sejarah Jawa Barat).
Sumber lain menjelaskan, baik Kitab Waruga Jagat, Layang Darmaraja, maupun riwayat yang berdasarkan tradisi lisan yang masih hidup, disebut kan bahwa Prabu Tajimalela adalah putra Prabu Guru Aji Putih, salah seorang keturunan raja Galuh yang masih bersaudara dengan Sribaduga Maharaja I. Ia melakukan petualangan hingga ke kawasan Timur sekitar pinggiran Sungai Cimanuk.
Prabu Tajimalela masih memiliki sejumlah nama, antara lain: Praburesi Agung Cakrabuana, Batara Tuntang Buana, dan Aji Putih. Dalam Waruga Jagat yang telah disalin dari huruf Arab ke dalam tulisan latin (1117 H), antara lain dikatakan: “Ari putrana Sang Dewa Guru Haji Putih, nyaeta Sang Aji Putih.”
Kehadiran Prabu Guru Haji Putih melahirkan perubahan-perubahan baru dalam kemasyarakatan, yang telah dirintis sejak abad ke-8 oleh Sahyang Resi Agung. Secara perlahan dusun-dusun di sekitar pinggiran sungai Cimanuk itu diikat oleh suatu struktur pemerintahan dan kemasyarakatan hingga berdirilah keajaan Tembong Agung yang merupakan cikal bakal Kerajaan Sumedanglarang. Kerjaan Tembong Agung tersebut, menurut riwayat teletak di Kampung Muhara, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.
Prabu Guru Haji Putih berpytra Praburesi Tajimalela. Berdasarkan perbandingan generasi dalam Koropak 410 Tajimalela sejajar dengan tokoh Ragamulya (1340-1350) penguasa di Kawali dan tokoh Suryadewata, ayahada Batara Gunung Bitung di Majalengka.
Memang belum diperoleh keterangan sumber yang menyebut-nyebut siapa grangan istri Sang Praburesi Tajimalela. Namun demikian, dalam beberapa sumber baik lisan maupun tertulis, dikatakan Praburesi Tajimalela mempunyai dua orang putra: Prabu Gajah Agung dan Lembu Agung.
Tahta kerajaan Sumedang Larang dari Prabu Tajimalela dilanjutkan oleh putranya bernama Atmabrata yang lebih dikenal dengan sebutan Gajah Agung yang berkedudukan di Cicanting.
Kisah awal raja ini memang mirip dengan kisah awal Kejaraan Mataram. Menurut versi Babat Tanah Jawi, antara Ki Ageng Sela dengan Ki Ageng Pamanahan, KiAgeng Sela memetik dan menyimpan buah kelapa muda, lalu ia pergi. Datang Ki Ageng Pamanahan yang kemudia meminumnya. Maka kemudian yang menjadi raja Ki Ageng Pamanahan.
Demikian pula dalam naskah Layang Darmaraja, yangmengisahkan Prabu Lembu Agung dan Gajah Agung yang melanjutkan tahta kepemeimpinan dari Praburesi Tajimalela.
Dikishkan, pada suatu ketika Prabu Tajimalela memanggil kedua putra kembarnya Lembu Gung dan Gajah Agung. Prabu Tajimalela berkata kepada mereka agar ada di antara salah seorang putranya ini yang bersedia melanjutkan kepemimpinannya.
“Adinda, adindalah kiranya yang lebih tepat menjadi raja,” ujar Lembu Agung kepada adiknya. “Kakanda, sungguh tidak pantas adinda yang masih muda usia, bila harus menjadi raja. Kakandalah yang lebih tepat,” jawab Gajah Agung.
Setelah di antara kedua putranya, masing-masing saling menunjuk siapa di antara mereka yang pantas menjai raja, akhirnya Praburesi Tajimalela memetik buah kelapa muda lalu disimpannya kelapa tadi serta sebilah pedang.
Mereka berdua disuruh menungguinya. “Adinda, tolong jaga kelapa ini. Kakanda hendak pergi ke jamban dulu,”kata Lembu Agung seraya pergi meninggalkan Gajah Agung. Tiba-tiba sepningga Lembu Agung, Gajah Agung merasakan haus yang bukan kepalang.
Apa boleh buat, untuk menghilangkan dahaganya, Pabu Gajah Agung kemudian menupas kelapa itu dan diminumlah airnya. Karenanya, ketika Lembu Agung kembali lagi, Gajah Agung langsung menyampaikan permohonan maaf kepada Lembu Agung karena rasa bersalahnya telah meminum air kelapa yang semestinya dijaganya.
Semula Prabu Gajah Agung mengka, Prabu Lembu Agung akan memarahinya. Namun ternya, dengan kebesaran jwa Prabu Lembu Agung malah berkta: ” Adinda, tampanya suratan takdir telah menentukan, dengan diminumnya air kelapa tadi oleh adinda, sudah barang tentu Adindalah yang sekarang terpilih menjadi raja,” ucap Lembu Agung.
Singkat cerita, jadilah Prabu Gajah Agung meneruskan kepemimpinan Prabu Tajimalela, yang kemudian ia meninggalkan tempat menuju daerah di pinggiran Kali Cipeles untuk mendirikan kerajaan yang sekarang disebut Ciguling.
Kemudia ia bergelar Prabu Pagulingan. Sementara kepemimpinan Prabu Gajah Agung kemudian digantikan oleh putranya , Wirajaya, yang lebih dikenal Sunan Pagulingan. Dalam Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Bart Sunan Pagulingan berkedudukan di Cipameungpeuk.
Namun ada pula yang mengisahkan, kedudukan Kerajaan Sumedanglarang pada saat itu berada di Ciguling, Kelurahan Pasanggrahan, Kecamatan Sumedang Selatan. Yang jelas, ketiga raja Sumedanglarang yang pertama ini masing-masing berkedudukan di tempat yang berbeda-beda.
Ini merpakan suatu gejala, bahwa kerajaan tersebut belum permanen yang dapat ditinggali turun temurun oleh para peberus pemegang kekuasaannya. Keadaan tersebut berlangsung sampai beberapa generasi berikutnya.
Putri Sulung Pagulingan bernama Ratu Ratnasih alias Ny Rajamantri diperistri Sribaduga Maharaja. Karena itu, adiknya bernama Martalaya menggantikan kedudukan ayahnya menjadi penguasa Sumedang yang keempat dengan gelar Suna Guling.
Sunan Guling digantikan oleh putranya bernama Tirta Kusumah atau Sunan Patuakan sbagai raja kelima Sumedanglarang. Kemudian, ia digantikan lagi oleh putri sulung bernama Sintawati alias Ny Mas Patuakan.
Antara Ibu dan anak ini mempunyai gelar yang sama yaitu Patuakan.
Ratu Sintawati berjodoh dengan Sunan Corenda, raja Talaga putera Ratu Simbar Kencana dari Kusumalaya putera Dewa Niskala. Dengan demikian, ia menjadi cucu menantu penguasa Galuh.
Sunan Corenda mempunyai dua permaisuri yakni Mayangsari putri Langlang Buana dari Kuningandan Sintawati dari Sumedang. Dari Mayangsari Sunan Corenda memperoleh puteri Bernama Ratu Wulansari alias Ratu Parung.
Berjodoh dengan Rangga Mantri alias Sunan Parung Gangsa (Pucuk Umum Talaga), putera Mundung Surya Ageung. Tokoh ini putera Sribaduga. Sunan Parung Gangsa ditakllukan oleh Cirebon tahiun 1530 dan masuk Islam.
Dari Sintawati putri sulung Sunan Guling, Sunan Corenda mempunyai puteri bernama Satyasih, yang kemudian menjadi penguasa Sumedang dengan gelar Ratu Pucuk Umum.
Ratu Pucuk Umum Menikah dengan Ki Gedeng Sumedang yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Santri. Pangeran ini adalah putera Pangeran Palakaran dari puteri Sindangkasih. Pangeran Palakaran putera Maulana Abdurahman alias Pangeran Panjunan.
Dengan perkawinan antara Ratu Satyasih dan Ki Gedeng Sumedang inilah agama Islam mulai menyebar di Sumedang pada tahun 1529.
Pangeran Santri dinobatkan sebagai penguasa Sumedang pada tanggal 13 bagian gelap bulan Asuji tahun 1452 Saka, atau kira-kira 21 Oktober 1530 M, tiga bula setelah penobatan Pangeran Santri.
Pada tanggal 12 bagian terang bulan Margasira tahun 1452 di Keraton Pakungwati diselenggarakan perjamuan “syukuran” untuk merayakan kemenangan Cirebon atas Galuh dan sekaligus pula merayakan penobatan Pangeran Santri.
Hal ini menunjukkan, bahwa Sumedanglarang telah masuk dalam lingkaran pengaruh Cirebon. Pangeran Santri adalah murid Susuhunan Jati. Pangeran Santri sebagai penguasa Sumedang pertama yang menganut Islam. Ia pula yang membangun Kutamaya sebagai Ibukota baru untuk pemerintahannya.
Dari perkawinannya dengan Ratu Pucuk Umum alias Ratu Inten Dewata, Pangeran Santri yang bergelar Pangeran Kusumahdinata I ini dikaruniai enam orang anak yaitu Pangeran Angkawijaya (Prabu Geusan Ulun), Kyai Rangga Haji, Kyai Demang Watang Walakung, Santowan Wirakusumah, yang melahirkan keturunan anak-cucu di Pagaden Subang, Santowan Cikeruh dan Santowan Awiluar.
Pangeran Santri wafat 2 Oktober 1579. Di antara putra-putri Pangeran Santri dari Ratu Inten Dewata (Pucuk Umum), yang melanjutkan pemerintahan di Sumedanglarang ialah Pangeran Angkawijaya bergelar Prabu Geusan Ulun.
Menurut Babad, daerah kekuasaan Geusan Ulun dibatasi kali Cipamali di sebelah Timur, Cisadane di sebelah Barat, sedangkan di sebelah Selatan dan Utara di batasai laut.
Daerah kekuasaan Geusan Ulun dapat diisimak dari isi surat Rangga Gempol III yang dikirimkan kepada Gubernur Jenderal Willem Van Outhoorn. Surat ini dibuat hari Senin, 2 Rabi’ulawal tahun Je atau 4 Desember 1690, yang dibuat dalam buku harian VOC di Batavia tanggal 31 Januari 1691.
Dalam surat tadi, Ranggal Gempol III (Pangeran Panembahan Kusumahdinata IV) menuntut agar kekuasannyadipulihkan kembali seperti kekuasaan buyutnya yaitu Geusan Ulun. Rangga Gempol mengungkapkan bahwa kekuasaan Geusan Ulun meliputi 44 penguasa daerah yang terdiri dari 22 kadagalante dan 18 umbul.
Ke-44 daerah di bawah kekuasaan Geusan Ulun meliputi:
I. Di Kabupaten Bandung
1. Timbanganten
2.Batulayang
3. Kahuripan
4. Tarogong
5. Curugagung
6. Ukur
7. Marunjung
8. Daerah Ngabei Astra Manggala
 
II, Di Kabupaten Parakanmuncang
1. Selacau
2. Daerah Ngabei Cucuk
3. Manabaya
4. Kadungora
5. Kandangwesi (Bungbulang)
6. Galunggung (Singaparna)
7. Sindangkasih
8. Cihaur
9. Taraju
 
III Di Kabupaten Sukapura
1. Karang
2. Parung
3. Panembong
4. Batuwangi
5. Saung Watang (Mangureja)
6. Daerah Ngabei Indawangsa di Taraju
7. Suci
8. Cipiniha
9. Mandala
10. Nagara (Pamungpeuk)
11. Cidamar
12. Parakan Tiga
13. Muara
14. Cisalak
15. Sukakerta
 
Berdasarkan data yang dikirimkan Rangga Gempol III pada masa VOC, maka kekuasaan Prabu Geusan Ulun meliputi Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Bandung. Batas di sebelah Yimur adalah Garis Cimanuk – Cilutung ditambah Sindangkasih (daerah muara Cideres ke Cilutung).
Di sebelah Barat garis Citarum – Cisokan. Batas Di sebelah Selatan laut Namun di sebelah Utara diperkirakan tidak meliputi wilayah yang telah dikuasai oleh Cirebon.
Masa kekuasaan Prabu Geusan Ulun (1579-1601) bertepatan dengan runtuhnya Kerajaan Pajajaran akibat serangan Banten di bawah Sultan Maulana Yusuf.
Sebelum Prabu Siliwangi meninggalkan Pajajaran mengutus empat Kandagalante untuk menyerahkan Mahkota serta menyampaikan amanat untuk Prabu Geusan Ulun yangpada dasarmya Kerajaan Sumedanglarang supaya melanjutkan kekuasaan Pajajaran. Geusan Ulun harus menjadi penerus Pajajaran.
Keempat orang bersaudara, senapati dan pembesar Pajajran yang diutus ke Sumedang tersebut yaitu Jaya Perkosa (Sanghyang Hawu); Wirajaya (Nagganan); Kondang Hapa; dan Pancar Buana (Embah Terong Peot).
Pustaka Kertabumi 1/2 memberitakan keempat bersaudara tersebut secara ringkas: “Sira Paniari deing Pangeran eusan Ulun, Rukungsira rumaksa wadyabalad, sinangguhan niti kaprabunmuwang salwirnya” (Mereka mengabdi kepada Prabu Geusan Ulun. Di sana mereka membina Balatentara, ditugasi mengatur pemerintahan dan lain-lain).
Jaya Perkosa adalah bekas senapati Pajajaran, sedangkan Batara Wiradijaya sesuai julukannya bekas Bangganan. Menurut Korpak 630, jabatan nangganan lebih tinggi setingkat dari menteri, namun setingkat lebih rendah dari Mangkubumi.
Di samping itu, menurut tradisi hari pasaran Legi (Manis), merupakan saat baik untuk memulainya suatu upaya besar dan sangat penting. Peristiwa itu dianggap sangat penting karena pengukuhan Geusan Ulun “Nyakrawati” atau Nalendra merupakan semacam proklamasi kebebasan Sumedang yang mensejajarkan diri dwngan Kerajaan Banten dan Cirebon.
Arti penting lain yang terkandung dalam peristiwa itu adalah pernyataan bahwa Sumedsanglarang menjadi ahli waris serta penerus dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran, di Bumi Parahyangan.
Mahkota dan beberapa atribut kerajaan yang dibawa oleh senapati Jaya Perkosa dan diserahkan kepada Prabu Geusan Ul/un merupakan bukti legalisasi kebesaran Sumedanglarang.
Berdasarkan bukti-bukti sejarah baik yang tertulis maupun babad/cerita rakyat, maka penetapan Hari Jadi Sumedang ditetapkan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sejarah.
Serangan laskar gabungan Banten, Pakungwati, Demak, dan Angke pada abad XVI ke Pajajran, merupakan peristiwa yangmembuat Kerajaan Pajajaran Runtag (runtuh).
Berakhirnya Pajajran pada waktu itu, tidak menyeret Sumedanglarang dibawah kepemimpinan Pangeran Santri ikut runtuh pula. Soalnya, sebagian rakyat Sumedanglarang pada itu sudah memeluk Agama Islam. Justru dengan berakhirnya masa kekuasaan Pajajaran, Sumedanglarang kian berkembang.
Penetapan Hari Jadi Sumedang erat kaitannya dengan peristiwa di atas. Terdapat tiga sumber sejarah yang dijadikan pegangan dalam menentukan Hari Jadi Sumedang:
Pertama : Kitab Waruga Jagat, yang disusun Mas Ngabehi Perana tahun 117 M. Kendati tak begitu lengkap isinya, namun sangat membantu dalam upaya mencari tanggal tepat untuk dijadikan pegagann/penentuan Hari Jadi Sumedang.”Pajajran Merad Kang Merad Ing Dina Selasa Ping 14 Wulan Syafar Tahun Jim Akhir” artinya: Kerajaan Pajajran runtuh pada 14 Syafar tahun JimAkhir.
Kedua : Buku Rucatan Sejarah yang disusun Dr R Asikin Widjayakusumah yang menyertakan antara lain: Pangeran Geusan Ulun Jumeneng Nalendra (harita teu kabawa kasasaha) di Sumedanglarang sbada burak Pajajaran. Artinya, Pangeran Geusan Ulun menjadi raja yang berdaulat di Sumedanglarang setelah Kerajaan Pajajaran berakhir.
Tiga : Dibuat Prof Dr Husein Djajadiningrat berjudul : Critise Beshuocing van de Sejarah Bnaten. Desertasi ini antara lain menyebutkan srangan tentara Islam ke Ibukota Pajajaran terjadi pada tahun 1579, tepatnya Ahad 1 Muharam tahun Alif.
Mengacu pada ketiga sumber sejarah tadi, maka dalam disksi untuk menentukan Hari Jadi Sumedang yang dihadiri para sejarawan masing-masing Drs Said Raksakusumah; Drs Amir Sutaarga; Drs Saleh Dana Sasmita; Dr Atja dan Drs A Gurfani, berhasil menyimpulkan bahw 14 Syafar Tahun Jim Akhir itu jatuh pada tahun 1578 Masehi, bukan tahun 1579, tepatnya 22 April 1578.
Atas dasar itu DPRD Daerah Tingkat II Sumedang waktu itu, dalam Keputusan Nomor 1/Kprs/DPRD/Smd/1973, Tanggal 8 Oktober 1973, menetapkan tanggal 22 Apri 1578 sebagai Hai Jai Sumedang.
Bupati Sumedang dari Masa ke Masa:
1. Pangeran Koesoemahdinata I (Pangeran Santri) 1530-1578)
2. Pangeran Kosoemahdinata II (Pangeran Geusan Ulun) (1578-1601)
3. Pangeran Koesoemahdinata III (Pangeran Rangga Gempol I) (1601-1625)
4. Pangeran Koesoemahdinata IV (Pangeran Rangga Gede) (1625-1656)
5. Pangeran Bagus Weuh (Pangeran Rangga Gempol II) (1633-1656)
6. Pangeran Koesoemahdinata VII (Pangeran Panembahan/Rangga Gempol III) (1656-1706)
7. Dalem Adipati Tandewijaya (1706-1709)
8. Rd Tumenggung Koesoemahdinata VII (Pangeran Rangga Gempol IV) (1709-1744)
9. Dalem Istri Radjaningrat (1744-1759)
10. Dalem Adipati Koesoemahdinata VIII (Dalem Anom) (1759-1761)
11. Dalem Adipati Soerianagara II (1761-1765)
12. Dalem Adipati Soerialaga I (1765-1773)
13. Dalem Adipati Partakoesoemah (Tusshen Bestur Parakanmuncang) (1773-1789)
14. Dalem Ariasatjapati III (1789-1791)
15. Rd Tumenggungsoerianagara (Pangeran Koesoemahdinata IX/Pangeran Kornel) (1791-1828)
16. Dalem Adipati Koesoemahdinata (Dalem Ageung) (1828-1833)
17. Dalem Adipati Koesoemahdinata (Dalem Alit) (1833-1834)
18. Rd Tumenggung Soeriaadilaga (1834-1836)
19. Pangeran Soeri Koesoemah Adinata (Pangeran Sugih) (1836-1882)
20. Pangeran Aria Soeriaatmadja (1882-1919)
21. Adipati Aria Koesoemadilaga (1919-1937)
22. Tumenggung Aria Soeria Koesoemah Adinata (1937-1946)
23. Tumenggung Hasan Satjakoesoemah (1946-1947)
24. Tumenggung Mohamad Singer (1947-1949)
25. Tumenggung Satjakoesoemah (1949-1950)
26. Rd Adoerahmah Kertadipoera (1950-1951)
27. Sulaeman Soemitakoesoemah (1951-1958)
28. a. Antam Sastradipura/Kepala Daerah (1958-1960)
b. R Enoh Soeriadikoesoemah/Pj Bupati
29. Mohamad Chafil (1960-1966)
30. Adang Kartaman (1966-1970)
31. Drs Supian Iskandar (Pj Bupati (1970-1972)
32. Drs Supian Iskandar (1972-1977)
33. Drs Soyoed (Pj Bupati) (1977-1978)
34. Drs H Kustandi Abdoerachman (1978-1983)
35. Drs H Sutarja (1983-1993)
38. Drs H Husien Javchjasaputra (1993-1998)
39. Drs H Misbach (1998-2003)
40. Dr H Don Murdono, SH, MSi (2003-sekarang)
 
SELAMAT ULANG TAHUN KOTAKU TERCINTA
SEMOGA DI ERA KEPEMIMPINAN BARU sUMEDANG SEMAKIN MAJU DAN MASYARAKAT KIAN SEJAHTERA
SEMOGA

Pasangan Calon Bupati/Wabup Don – Top Pastikan Diri Menag Pilkada 2008

Ditulis dalam Tak Berkategori oleh sumedangonline pada 22 AprpmSun, 20 Apr 2008 13:31:07 +0000UTC30 2008

SUMEDANG – Pasangan Don Murdono – Taufiq Gunawansyah atau yang lebih beken disebut “Don – Top” ini, pada penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bupati/Wakil Bupati Sumedang 2008 yang diselenggarakan Minggu, 13 April 2008, dipastikan berhasil meraup kemenangan atas pesaingnya pasangan H Endang Sukandar – H Dony Ahmad Munir (Esa – Doam) dengan selisih angka mencapai puluhan ribu suara.
Dengan demikian pasangan Don – Top dipastkan pula bisa menempati kursi kepemimpinan di Kabupaten Sumedang untuk lima tahun kedepan, 2008 – 2013. Untuk Don Murdono yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sumedang ini, kemenangan ini merupakan kemenangan yang kedua kalinya, sebab dalam Pilkada 2003 silam, ia berhasil menduduki kursi Bupati Sumedang (2003 – 2008).
Sementarara Taufiq Gunawansyah, Ketua DPRD Sumedang yang juga Ketua DPD Partai Golkar Sumedang, kemenangan ini merupakan awal keberangkatannya memasuki dunia eksekutif setelah dua periode menjadi anggota legislatif (DPRD) Sumedang.
H Don Murdono dilahirkan di Kendal (Jawa Tengah), 15 Oktober 1958. Sedangkan Taufiq Gunawansyah dilahirkan di Sumedang, 11 November 1968.
Pasangan Don – Top ini tampil dalam Pilkada 2008 yang digabung dengan Pilkada Gubernur/Wakil Gubernur Jawa Barat tersebut, mendapat dukungan dari 11 partai politik masing-masing PDIP, Partai Golkar, PKS, PKB, PBR, Partai Patriot Pancasila, PPD, PBSD, PKPI, PNBK, dan PDS.
Berikut ini ringkasan Visi, Misi, Strategi dan Kebijakan yang disampaikan dalam Rapat Paripurna DPRD, Kamis 27 Maret 2008. Tentu saja, setelah berhasil memenangkan Pilkada yang baru dalam tahap buka pintu ini, setelah pelantikan 5 Juli 2008, pasangan ini akan dituntut untuk merealisasikan visi, misi, maupun strategi kebijakannya dalam kurun waktu lima tahun ke depan.
VISI yang dilahirkan yakni “Peningkatan Kualitas Pelayanan dan Kesejahteraan Masyarakat dalam Rangka Akselerasi Pencapaian Visi Sumedang 2005 – 2025.” Visi ini, katanya, didasarkan pada gambaran umum, isu-isu strategis dan kondisi yang dihadapi Sumedang saat ini, serta memperhatikan Visi Daerah (Perda No 2/2008)) yakni Kabupaten Sumedang Sejahtera, Agamis dan Demokratis pada Tahun 2025.
Yang dimaksud Peningkatan Pelayanan, adalah suatu kondisi peningkatan kualitas berbagai aspek penyelenggaraan pelayanan publik baik secara administratif yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah bagi seluruh warga masyarakat Sumedang yang lebih memuaskan (murah, mudah, terjangkai, tepat waktu, dan berkeadilan) sesuai dengan kebutuhan.
Sedangkan yang dimaksud Kesejahteraan Masyarakat, adalah terwujudnya suatu kondisi kesejahteraan masyarakat melalui penenuhan kebutuhan dasar di bidang pendidikan, kesehatan dan peningkatan kehidupan yang layak bagi masyarakat, serta pemenuhan kebutuhan sarana prasarana infrastruktur daerah untuk mendorong aktifitas perekonomian daerah dalam rangka pembangunan berkelanjutan.
Sedangkan MISI pasangan Don – Top ini, disesuaikan berdasarkan Visi dan penjelasnnya yang telah dirumuskan
menjadi:
1. Mewujudkan kualitas SDM masyarakat yang unggul dan
berakhlak mulia berlandaskan keimanan dan ketaqwaan
kepada Tuhan Yang Maha Esa;
2. Meuwujudkan kualitas aparatur dan manajeman
pemerintahan daerah yang semakin baik;
3. Mewujudkan ketahanan pangan dan perekonomian
daerah yang tangguh yang bertumpu pada potensi
sumberdaya daerah secara berkelanjutan;
5. Mewujudkan tata kelola lingkungan yang semakin baik

Kecuali itu, Strategi dan Kebijakan dituangkan kedalam enam poiint penting, yakni:
1 Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang sehat,
cerdas, produktif dan berdaya saing
2. Meningkatkan kompetensi aparatur dan kapasitas
manajemen pemerintahan
3. Meningkatkan dan memperkokoh perekonomian rakyat
4. Meningkatkan pengendalian dan pemulihan kualitas
lingkungan dan manajemen bencana
5. Meningkatkan pegelolaan, pengembangan dan
pengendalian infrastruktur daerah
6. Meningkatkan kemandirian energi dan kecukupan air.

Ditulis dalam Tak Berkategori oleh sumedangonline pada 22 ApramSun, 20 Apr 2008 10:17:00 +0000UTC30 2008

Pertemuan Warga RW 12
Bentuk Panitia Pemilihan
 
SUMEDANG – Masa bhakti kepemimpinan RW 12 Desa Jatihurip telah berakhir, Maret 2008. Karenanya, guna kelangsungan roda pemerntahan telah digelar pertemuan warga untuk membentuk panitia pemilihan Ketua RW 12 yang digelar di Mesid Al Muawwanah, Sabtu, 19 April malam.
Pertemuan tersebut dipimpin Ketua RW 12 Drs Dede Mulyarsa dan dihadiri Ketua RT 01 Erna Sukisman, Ketua RT 02 Ujang Hadiana, Ketua RT 03 Didin Saefudin, dan Ketua RT 04 Drs Kosmara. Selain ituhadir pula sejumlah tokoh masyarakat.
Dalam pertemuan ini menghasilkan kepanitiaan yang dipercayakan kepada Suharna (Nono), Jajang Ridwan, SPd, dan Aba. Panitia Pemilihan Ketua RW 12 kepemimpinannya dipercayakan kepada Nono.
Berbicara tentang rencana pemilihan telah dirancang yakni Minggu, 11 Mei 2008. Persoalannya, penghimpunan dana Rp 3.000/KK cukup sulit, sehingga diperlukan waktu dalam pengumpulan dana tersebut.***

Kasi PAUD Disdik Sumedang

Ditulis dalam Tak Berkategori oleh sumedangonline pada 22 AprpmFri, 18 Apr 2008 16:51:00 +0000UTC30 2008

BERITA: PAUD di Sumedang

Ditulis dalam Tak Berkategori oleh sumedangonline pada 22 AprpmFri, 18 Apr 2008 16:41:00 +0000UTC30 2008

Jumlah Lembaga PAUD terus Meningkat
Kini harapkan Pengakuan dari Pemerintah

SUMEDANG – Keberadaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) kini memperoleh perhatian khusus dari Pemkab Sumedang.
Terbukti, di Dinas Pendidikan (Disdik) Sumedang, terdapat salah satu Seksi PAUD pada Bidang PLS (Pendidikan Luar Sekolah).
Dra Cucu Yuningsi, MM, Kasi PAUD saat mendampingi Kabid PLS Drs Feddy Fadlillah, MM, saat ditemui Jumat (18/4), mengatakan bahwa perkembangan PAUD di tengah-tengah masyarakat saat ini cukup pesat.
Dijelaskan, pada tahun 2007 jumlah PAUD hanya sebanyak
32 lembaga. Hanya saja, setelah memasuki 2008 jumlahnya kian berkembang dan saat ini telah tercatat sebanyak 189 lembaga PAUD.
“Ini kondisi yang cukup menggembirakan dan sudah semestinya mendapat dorongan dari pemerintah. Soalnya, tidak sedikit PAUD yang didirikan oleh para Kader Posyandu,” paparnya.
Keberadaan PAUD, lanjut Cucu, telah muncul sejak tahun 2001 meski jumlahnya masih sangat terbatas. “Sekarang, sudah tersebar di 26 wilayah kecamatan. Ini perkembangan yang sangat positif dalam memberikan pelayanan pendidikan bai anak usia 0 – 6 tahun,” jelasnya.
Pada awalnya, pendirian PAUD terutama di lokasi atau daerah yang tak memiliki Taman Kanak-Kanak (TK) atau terlalu jauh untuk menjangkau TK.
Selain itu, PAUD sasaran utamanya adalah ditujukan bagi anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu. Hanya saja dalam perkembagannya ternyata banyak diminati masyarakat sehingga jumlah siswanyapun terus meningkat.
Sementara itu, Ketua Bidang Pendidikan HIMPAUDI Sumedang, Dedi, yang juga Ketua HIMPAUDI Kecamatan Wado, menyebutkan bahwa yang menjadi harapan sebanyak 604 tutor (tenaga pengajar) adalah pengakuan dari Pemkab Sumedang.
Salah satunya, adalah pengakuan dalam bentuk SK seperti yang dilakukan terhadap guru-guru Sukwan tempo hari.
“Atau paling tidak dengan adanya pengakuan ini, bisa mengantar para tutor ini menjadi guru bantu. Itu yang menjadi harapan kami,” kata Dedi. ***

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.