Sumedang Online


Posted in Tak Berkategori oleh sumedangonline pada 22 AprpmSun, 20 Apr 2008 21:58:00 +0000UTC30 2008

Logo LINGGA tampak berada di atas Gedung Negara, tempat kediaman resmi Bupati Sumedang. Hari Selas 22 April 2008, tepat berusia 430 tahun.
SUMEDANG KOTA KAMELANG KINI GENAP BERUSIA 430 TAHUN
 
LAMBANG Kabupaten Sumedang, LINGGA, diciptakan oleh R Maharmartanagara, putra seorang Bupati Bandung Rd Adipati Aria Martanegara, keturunan Sumedang. Lambang ini diresmikan menjadi lambang Sumedang pada tanggal 13 Mei 1959.
Hal-hal yang terkandung pada logo LINGGA:
1. PERISAI : Melambangkan jiwa kesatria utama, percaya
kepada diri sendiri
2. SISI MERAH : Melambangkan semangat keberanian
3. DASAR HIJAU : Melambangkan kesuburan pertanian
4. BENTUK SETENGAH BOLA DAN BENTUK
SETENGAH KUBUS PADA LINGGA : Melambangkan
bahwa manusia tidak ada yang sempurna
5. SINAR MATAHARI : Melambangkan semangat dalam
mencapai kemajuan
6. WARNA KUNING EMAS : Melambangkan keluhuran
budi dan kebesaran jiwa
7. SINAR YANG KE 17 ANGKA : Melambangkan Angka
Sakti tanggal Prroklamasi Kemerdekaan Republik
Indonesia
8. DELAPAN BENTUK PADA LINGGA : Lambang Bulan
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
9. 19 BUAH BATU PADA LINGGA, 4 BUAH KAKI
TEMBIK DAN 5 BUAH ANAK TANGGA : Lambang
Tahun Proklamasi Kemerdekaan Repubil Indonesia
Tahun 1945
10.TULISAN INSUN MEDAL : Tulisan Insun Medal erat
kaitannya dengan kata Sumedang yang mengandung
arti:
a. Berdasarkan Prabu TADJIMALELA, seorang tokoh
legendaris dalam sejarah Sumedang, INSUS MEDAL
berarti (INSUN : Aku, MEDAL : Keluar)
b. Berdsarkan data di Museum Prabu GESUSAN ULUN;
INSUN berrti (INSUN: Daya, MADNANGAN: Terang)
Kedua pengertian ini bersifat mistik.
c. Berdasarkan keterangan Prof. ANWAS ADIWILAGA,
INSUN MEDAL beasal dari kata SU dan MEDANG
(SU: bagus dan MEDANG: sejenis kayu yang bagus
pada Jati yaitu huru yang banyak tumbuh di Sumedang
dulu), dan pengertian ini bersifat etimologi
 
Inilah sekedar Selayang Pandang Kabupaten Sumedang, yang pada hari Selasa 22 April 2008, genap berusia 430 tahun. Disi saya coba urai sejarah singkat Sumedang.
Menurut Bujangga Manik, di dekat Gunung Tompo Omas terdapat Kerajaan Kahiyangan, yang diserang pasukan Cirebon dalam masa pemerintahan Surawisesa.
Belum jelas, adakah hubungan antara Medang Kahiyangan dan Sumedanglarang. Namun pada sat Bujangga Manik memasuki Medang Kahiyangan, menurut versi lainnya, saat itu sudah terdapat kerajaan yang disebut Sumedanglarang.
Dalam Koropak 410 disbutkab, Pendiri Kerajaan Sumedanglarang tak lain adalah Praburesi Tadjimalela. Ia berkedudukan di Tembong Agung yang disebut Mandala Hibar Buana.
Masih belum jelas pula asa-usulnya tokoh Legendaris leluhur Sumedang ini. Sebab, Tadjimalela adalah nama lain dari Panji Romahyang, putra Damung Tabela Panji Ronajaya dari Dayeuh Singapura (Rintisan Penelusuran silam sejarah Jawa Barat).
Sumber lain menjelaskan, baik Kitab Waruga Jagat, Layang Darmaraja, maupun riwayat yang berdasarkan tradisi lisan yang masih hidup, disebut kan bahwa Prabu Tajimalela adalah putra Prabu Guru Aji Putih, salah seorang keturunan raja Galuh yang masih bersaudara dengan Sribaduga Maharaja I. Ia melakukan petualangan hingga ke kawasan Timur sekitar pinggiran Sungai Cimanuk.
Prabu Tajimalela masih memiliki sejumlah nama, antara lain: Praburesi Agung Cakrabuana, Batara Tuntang Buana, dan Aji Putih. Dalam Waruga Jagat yang telah disalin dari huruf Arab ke dalam tulisan latin (1117 H), antara lain dikatakan: “Ari putrana Sang Dewa Guru Haji Putih, nyaeta Sang Aji Putih.”
Kehadiran Prabu Guru Haji Putih melahirkan perubahan-perubahan baru dalam kemasyarakatan, yang telah dirintis sejak abad ke-8 oleh Sahyang Resi Agung. Secara perlahan dusun-dusun di sekitar pinggiran sungai Cimanuk itu diikat oleh suatu struktur pemerintahan dan kemasyarakatan hingga berdirilah keajaan Tembong Agung yang merupakan cikal bakal Kerajaan Sumedanglarang. Kerjaan Tembong Agung tersebut, menurut riwayat teletak di Kampung Muhara, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.
Prabu Guru Haji Putih berpytra Praburesi Tajimalela. Berdasarkan perbandingan generasi dalam Koropak 410 Tajimalela sejajar dengan tokoh Ragamulya (1340-1350) penguasa di Kawali dan tokoh Suryadewata, ayahada Batara Gunung Bitung di Majalengka.
Memang belum diperoleh keterangan sumber yang menyebut-nyebut siapa grangan istri Sang Praburesi Tajimalela. Namun demikian, dalam beberapa sumber baik lisan maupun tertulis, dikatakan Praburesi Tajimalela mempunyai dua orang putra: Prabu Gajah Agung dan Lembu Agung.
Tahta kerajaan Sumedang Larang dari Prabu Tajimalela dilanjutkan oleh putranya bernama Atmabrata yang lebih dikenal dengan sebutan Gajah Agung yang berkedudukan di Cicanting.
Kisah awal raja ini memang mirip dengan kisah awal Kejaraan Mataram. Menurut versi Babat Tanah Jawi, antara Ki Ageng Sela dengan Ki Ageng Pamanahan, KiAgeng Sela memetik dan menyimpan buah kelapa muda, lalu ia pergi. Datang Ki Ageng Pamanahan yang kemudia meminumnya. Maka kemudian yang menjadi raja Ki Ageng Pamanahan.
Demikian pula dalam naskah Layang Darmaraja, yangmengisahkan Prabu Lembu Agung dan Gajah Agung yang melanjutkan tahta kepemeimpinan dari Praburesi Tajimalela.
Dikishkan, pada suatu ketika Prabu Tajimalela memanggil kedua putra kembarnya Lembu Gung dan Gajah Agung. Prabu Tajimalela berkata kepada mereka agar ada di antara salah seorang putranya ini yang bersedia melanjutkan kepemimpinannya.
“Adinda, adindalah kiranya yang lebih tepat menjadi raja,” ujar Lembu Agung kepada adiknya. “Kakanda, sungguh tidak pantas adinda yang masih muda usia, bila harus menjadi raja. Kakandalah yang lebih tepat,” jawab Gajah Agung.
Setelah di antara kedua putranya, masing-masing saling menunjuk siapa di antara mereka yang pantas menjai raja, akhirnya Praburesi Tajimalela memetik buah kelapa muda lalu disimpannya kelapa tadi serta sebilah pedang.
Mereka berdua disuruh menungguinya. “Adinda, tolong jaga kelapa ini. Kakanda hendak pergi ke jamban dulu,”kata Lembu Agung seraya pergi meninggalkan Gajah Agung. Tiba-tiba sepningga Lembu Agung, Gajah Agung merasakan haus yang bukan kepalang.
Apa boleh buat, untuk menghilangkan dahaganya, Pabu Gajah Agung kemudian menupas kelapa itu dan diminumlah airnya. Karenanya, ketika Lembu Agung kembali lagi, Gajah Agung langsung menyampaikan permohonan maaf kepada Lembu Agung karena rasa bersalahnya telah meminum air kelapa yang semestinya dijaganya.
Semula Prabu Gajah Agung mengka, Prabu Lembu Agung akan memarahinya. Namun ternya, dengan kebesaran jwa Prabu Lembu Agung malah berkta: ” Adinda, tampanya suratan takdir telah menentukan, dengan diminumnya air kelapa tadi oleh adinda, sudah barang tentu Adindalah yang sekarang terpilih menjadi raja,” ucap Lembu Agung.
Singkat cerita, jadilah Prabu Gajah Agung meneruskan kepemimpinan Prabu Tajimalela, yang kemudian ia meninggalkan tempat menuju daerah di pinggiran Kali Cipeles untuk mendirikan kerajaan yang sekarang disebut Ciguling.
Kemudia ia bergelar Prabu Pagulingan. Sementara kepemimpinan Prabu Gajah Agung kemudian digantikan oleh putranya , Wirajaya, yang lebih dikenal Sunan Pagulingan. Dalam Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Bart Sunan Pagulingan berkedudukan di Cipameungpeuk.
Namun ada pula yang mengisahkan, kedudukan Kerajaan Sumedanglarang pada saat itu berada di Ciguling, Kelurahan Pasanggrahan, Kecamatan Sumedang Selatan. Yang jelas, ketiga raja Sumedanglarang yang pertama ini masing-masing berkedudukan di tempat yang berbeda-beda.
Ini merpakan suatu gejala, bahwa kerajaan tersebut belum permanen yang dapat ditinggali turun temurun oleh para peberus pemegang kekuasaannya. Keadaan tersebut berlangsung sampai beberapa generasi berikutnya.
Putri Sulung Pagulingan bernama Ratu Ratnasih alias Ny Rajamantri diperistri Sribaduga Maharaja. Karena itu, adiknya bernama Martalaya menggantikan kedudukan ayahnya menjadi penguasa Sumedang yang keempat dengan gelar Suna Guling.
Sunan Guling digantikan oleh putranya bernama Tirta Kusumah atau Sunan Patuakan sbagai raja kelima Sumedanglarang. Kemudian, ia digantikan lagi oleh putri sulung bernama Sintawati alias Ny Mas Patuakan.
Antara Ibu dan anak ini mempunyai gelar yang sama yaitu Patuakan.
Ratu Sintawati berjodoh dengan Sunan Corenda, raja Talaga putera Ratu Simbar Kencana dari Kusumalaya putera Dewa Niskala. Dengan demikian, ia menjadi cucu menantu penguasa Galuh.
Sunan Corenda mempunyai dua permaisuri yakni Mayangsari putri Langlang Buana dari Kuningandan Sintawati dari Sumedang. Dari Mayangsari Sunan Corenda memperoleh puteri Bernama Ratu Wulansari alias Ratu Parung.
Berjodoh dengan Rangga Mantri alias Sunan Parung Gangsa (Pucuk Umum Talaga), putera Mundung Surya Ageung. Tokoh ini putera Sribaduga. Sunan Parung Gangsa ditakllukan oleh Cirebon tahiun 1530 dan masuk Islam.
Dari Sintawati putri sulung Sunan Guling, Sunan Corenda mempunyai puteri bernama Satyasih, yang kemudian menjadi penguasa Sumedang dengan gelar Ratu Pucuk Umum.
Ratu Pucuk Umum Menikah dengan Ki Gedeng Sumedang yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Santri. Pangeran ini adalah putera Pangeran Palakaran dari puteri Sindangkasih. Pangeran Palakaran putera Maulana Abdurahman alias Pangeran Panjunan.
Dengan perkawinan antara Ratu Satyasih dan Ki Gedeng Sumedang inilah agama Islam mulai menyebar di Sumedang pada tahun 1529.
Pangeran Santri dinobatkan sebagai penguasa Sumedang pada tanggal 13 bagian gelap bulan Asuji tahun 1452 Saka, atau kira-kira 21 Oktober 1530 M, tiga bula setelah penobatan Pangeran Santri.
Pada tanggal 12 bagian terang bulan Margasira tahun 1452 di Keraton Pakungwati diselenggarakan perjamuan “syukuran” untuk merayakan kemenangan Cirebon atas Galuh dan sekaligus pula merayakan penobatan Pangeran Santri.
Hal ini menunjukkan, bahwa Sumedanglarang telah masuk dalam lingkaran pengaruh Cirebon. Pangeran Santri adalah murid Susuhunan Jati. Pangeran Santri sebagai penguasa Sumedang pertama yang menganut Islam. Ia pula yang membangun Kutamaya sebagai Ibukota baru untuk pemerintahannya.
Dari perkawinannya dengan Ratu Pucuk Umum alias Ratu Inten Dewata, Pangeran Santri yang bergelar Pangeran Kusumahdinata I ini dikaruniai enam orang anak yaitu Pangeran Angkawijaya (Prabu Geusan Ulun), Kyai Rangga Haji, Kyai Demang Watang Walakung, Santowan Wirakusumah, yang melahirkan keturunan anak-cucu di Pagaden Subang, Santowan Cikeruh dan Santowan Awiluar.
Pangeran Santri wafat 2 Oktober 1579. Di antara putra-putri Pangeran Santri dari Ratu Inten Dewata (Pucuk Umum), yang melanjutkan pemerintahan di Sumedanglarang ialah Pangeran Angkawijaya bergelar Prabu Geusan Ulun.
Menurut Babad, daerah kekuasaan Geusan Ulun dibatasi kali Cipamali di sebelah Timur, Cisadane di sebelah Barat, sedangkan di sebelah Selatan dan Utara di batasai laut.
Daerah kekuasaan Geusan Ulun dapat diisimak dari isi surat Rangga Gempol III yang dikirimkan kepada Gubernur Jenderal Willem Van Outhoorn. Surat ini dibuat hari Senin, 2 Rabi’ulawal tahun Je atau 4 Desember 1690, yang dibuat dalam buku harian VOC di Batavia tanggal 31 Januari 1691.
Dalam surat tadi, Ranggal Gempol III (Pangeran Panembahan Kusumahdinata IV) menuntut agar kekuasannyadipulihkan kembali seperti kekuasaan buyutnya yaitu Geusan Ulun. Rangga Gempol mengungkapkan bahwa kekuasaan Geusan Ulun meliputi 44 penguasa daerah yang terdiri dari 22 kadagalante dan 18 umbul.
Ke-44 daerah di bawah kekuasaan Geusan Ulun meliputi:
I. Di Kabupaten Bandung
1. Timbanganten
2.Batulayang
3. Kahuripan
4. Tarogong
5. Curugagung
6. Ukur
7. Marunjung
8. Daerah Ngabei Astra Manggala
 
II, Di Kabupaten Parakanmuncang
1. Selacau
2. Daerah Ngabei Cucuk
3. Manabaya
4. Kadungora
5. Kandangwesi (Bungbulang)
6. Galunggung (Singaparna)
7. Sindangkasih
8. Cihaur
9. Taraju
 
III Di Kabupaten Sukapura
1. Karang
2. Parung
3. Panembong
4. Batuwangi
5. Saung Watang (Mangureja)
6. Daerah Ngabei Indawangsa di Taraju
7. Suci
8. Cipiniha
9. Mandala
10. Nagara (Pamungpeuk)
11. Cidamar
12. Parakan Tiga
13. Muara
14. Cisalak
15. Sukakerta
 
Berdasarkan data yang dikirimkan Rangga Gempol III pada masa VOC, maka kekuasaan Prabu Geusan Ulun meliputi Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Bandung. Batas di sebelah Yimur adalah Garis Cimanuk – Cilutung ditambah Sindangkasih (daerah muara Cideres ke Cilutung).
Di sebelah Barat garis Citarum – Cisokan. Batas Di sebelah Selatan laut Namun di sebelah Utara diperkirakan tidak meliputi wilayah yang telah dikuasai oleh Cirebon.
Masa kekuasaan Prabu Geusan Ulun (1579-1601) bertepatan dengan runtuhnya Kerajaan Pajajaran akibat serangan Banten di bawah Sultan Maulana Yusuf.
Sebelum Prabu Siliwangi meninggalkan Pajajaran mengutus empat Kandagalante untuk menyerahkan Mahkota serta menyampaikan amanat untuk Prabu Geusan Ulun yangpada dasarmya Kerajaan Sumedanglarang supaya melanjutkan kekuasaan Pajajaran. Geusan Ulun harus menjadi penerus Pajajaran.
Keempat orang bersaudara, senapati dan pembesar Pajajran yang diutus ke Sumedang tersebut yaitu Jaya Perkosa (Sanghyang Hawu); Wirajaya (Nagganan); Kondang Hapa; dan Pancar Buana (Embah Terong Peot).
Pustaka Kertabumi 1/2 memberitakan keempat bersaudara tersebut secara ringkas: “Sira Paniari deing Pangeran eusan Ulun, Rukungsira rumaksa wadyabalad, sinangguhan niti kaprabunmuwang salwirnya” (Mereka mengabdi kepada Prabu Geusan Ulun. Di sana mereka membina Balatentara, ditugasi mengatur pemerintahan dan lain-lain).
Jaya Perkosa adalah bekas senapati Pajajaran, sedangkan Batara Wiradijaya sesuai julukannya bekas Bangganan. Menurut Korpak 630, jabatan nangganan lebih tinggi setingkat dari menteri, namun setingkat lebih rendah dari Mangkubumi.
Di samping itu, menurut tradisi hari pasaran Legi (Manis), merupakan saat baik untuk memulainya suatu upaya besar dan sangat penting. Peristiwa itu dianggap sangat penting karena pengukuhan Geusan Ulun “Nyakrawati” atau Nalendra merupakan semacam proklamasi kebebasan Sumedang yang mensejajarkan diri dwngan Kerajaan Banten dan Cirebon.
Arti penting lain yang terkandung dalam peristiwa itu adalah pernyataan bahwa Sumedsanglarang menjadi ahli waris serta penerus dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran, di Bumi Parahyangan.
Mahkota dan beberapa atribut kerajaan yang dibawa oleh senapati Jaya Perkosa dan diserahkan kepada Prabu Geusan Ul/un merupakan bukti legalisasi kebesaran Sumedanglarang.
Berdasarkan bukti-bukti sejarah baik yang tertulis maupun babad/cerita rakyat, maka penetapan Hari Jadi Sumedang ditetapkan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sejarah.
Serangan laskar gabungan Banten, Pakungwati, Demak, dan Angke pada abad XVI ke Pajajran, merupakan peristiwa yangmembuat Kerajaan Pajajaran Runtag (runtuh).
Berakhirnya Pajajran pada waktu itu, tidak menyeret Sumedanglarang dibawah kepemimpinan Pangeran Santri ikut runtuh pula. Soalnya, sebagian rakyat Sumedanglarang pada itu sudah memeluk Agama Islam. Justru dengan berakhirnya masa kekuasaan Pajajaran, Sumedanglarang kian berkembang.
Penetapan Hari Jadi Sumedang erat kaitannya dengan peristiwa di atas. Terdapat tiga sumber sejarah yang dijadikan pegangan dalam menentukan Hari Jadi Sumedang:
Pertama : Kitab Waruga Jagat, yang disusun Mas Ngabehi Perana tahun 117 M. Kendati tak begitu lengkap isinya, namun sangat membantu dalam upaya mencari tanggal tepat untuk dijadikan pegagann/penentuan Hari Jadi Sumedang.”Pajajran Merad Kang Merad Ing Dina Selasa Ping 14 Wulan Syafar Tahun Jim Akhir” artinya: Kerajaan Pajajran runtuh pada 14 Syafar tahun JimAkhir.
Kedua : Buku Rucatan Sejarah yang disusun Dr R Asikin Widjayakusumah yang menyertakan antara lain: Pangeran Geusan Ulun Jumeneng Nalendra (harita teu kabawa kasasaha) di Sumedanglarang sbada burak Pajajaran. Artinya, Pangeran Geusan Ulun menjadi raja yang berdaulat di Sumedanglarang setelah Kerajaan Pajajaran berakhir.
Tiga : Dibuat Prof Dr Husein Djajadiningrat berjudul : Critise Beshuocing van de Sejarah Bnaten. Desertasi ini antara lain menyebutkan srangan tentara Islam ke Ibukota Pajajaran terjadi pada tahun 1579, tepatnya Ahad 1 Muharam tahun Alif.
Mengacu pada ketiga sumber sejarah tadi, maka dalam disksi untuk menentukan Hari Jadi Sumedang yang dihadiri para sejarawan masing-masing Drs Said Raksakusumah; Drs Amir Sutaarga; Drs Saleh Dana Sasmita; Dr Atja dan Drs A Gurfani, berhasil menyimpulkan bahw 14 Syafar Tahun Jim Akhir itu jatuh pada tahun 1578 Masehi, bukan tahun 1579, tepatnya 22 April 1578.
Atas dasar itu DPRD Daerah Tingkat II Sumedang waktu itu, dalam Keputusan Nomor 1/Kprs/DPRD/Smd/1973, Tanggal 8 Oktober 1973, menetapkan tanggal 22 Apri 1578 sebagai Hai Jai Sumedang.
Bupati Sumedang dari Masa ke Masa:
1. Pangeran Koesoemahdinata I (Pangeran Santri) 1530-1578)
2. Pangeran Kosoemahdinata II (Pangeran Geusan Ulun) (1578-1601)
3. Pangeran Koesoemahdinata III (Pangeran Rangga Gempol I) (1601-1625)
4. Pangeran Koesoemahdinata IV (Pangeran Rangga Gede) (1625-1656)
5. Pangeran Bagus Weuh (Pangeran Rangga Gempol II) (1633-1656)
6. Pangeran Koesoemahdinata VII (Pangeran Panembahan/Rangga Gempol III) (1656-1706)
7. Dalem Adipati Tandewijaya (1706-1709)
8. Rd Tumenggung Koesoemahdinata VII (Pangeran Rangga Gempol IV) (1709-1744)
9. Dalem Istri Radjaningrat (1744-1759)
10. Dalem Adipati Koesoemahdinata VIII (Dalem Anom) (1759-1761)
11. Dalem Adipati Soerianagara II (1761-1765)
12. Dalem Adipati Soerialaga I (1765-1773)
13. Dalem Adipati Partakoesoemah (Tusshen Bestur Parakanmuncang) (1773-1789)
14. Dalem Ariasatjapati III (1789-1791)
15. Rd Tumenggungsoerianagara (Pangeran Koesoemahdinata IX/Pangeran Kornel) (1791-1828)
16. Dalem Adipati Koesoemahdinata (Dalem Ageung) (1828-1833)
17. Dalem Adipati Koesoemahdinata (Dalem Alit) (1833-1834)
18. Rd Tumenggung Soeriaadilaga (1834-1836)
19. Pangeran Soeri Koesoemah Adinata (Pangeran Sugih) (1836-1882)
20. Pangeran Aria Soeriaatmadja (1882-1919)
21. Adipati Aria Koesoemadilaga (1919-1937)
22. Tumenggung Aria Soeria Koesoemah Adinata (1937-1946)
23. Tumenggung Hasan Satjakoesoemah (1946-1947)
24. Tumenggung Mohamad Singer (1947-1949)
25. Tumenggung Satjakoesoemah (1949-1950)
26. Rd Adoerahmah Kertadipoera (1950-1951)
27. Sulaeman Soemitakoesoemah (1951-1958)
28. a. Antam Sastradipura/Kepala Daerah (1958-1960)
b. R Enoh Soeriadikoesoemah/Pj Bupati
29. Mohamad Chafil (1960-1966)
30. Adang Kartaman (1966-1970)
31. Drs Supian Iskandar (Pj Bupati (1970-1972)
32. Drs Supian Iskandar (1972-1977)
33. Drs Soyoed (Pj Bupati) (1977-1978)
34. Drs H Kustandi Abdoerachman (1978-1983)
35. Drs H Sutarja (1983-1993)
38. Drs H Husien Javchjasaputra (1993-1998)
39. Drs H Misbach (1998-2003)
40. Dr H Don Murdono, SH, MSi (2003-sekarang)
 
SELAMAT ULANG TAHUN KOTAKU TERCINTA
SEMOGA DI ERA KEPEMIMPINAN BARU sUMEDANG SEMAKIN MAJU DAN MASYARAKAT KIAN SEJAHTERA
SEMOGA

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: