Sumedang Online


22 April 2008 Aumedang Genap Berusia 430 Tahun

Posted in Tak Berkategori oleh sumedangonline pada 22 ApramMon, 21 Apr 2008 08:22:13 +0000UTC30 2008

SUMEDANG KOTA KAMELANG KINI GENAP BERUSIA 430 TAHUN
LAMBANG Kabupaten Sumedang, LINGGA, diciptakan oleh R Maharmartanagara, putra seorang Bupati Bandung Rd Adipati Aria Martanegara, keturunan Sumedang. Lambang ini diresmikan menjadi lambang Sumedang pada tanggal 13 Mei 1959.
Hal-hal yang terkandung pada logo LINGGA:
1. PERISAI : Melambangkan jiwa kesatria utama, percaya
kepada diri sendiri
2. SISI MERAH : Melambangkan semangat keberanian
3. DASAR HIJAU : Melambangkan kesuburan pertanian
4. BENTUK SETENGAH BOLA DAN BENTUK
SETENGAH KUBUS PADA LINGGA : Melambangkan
bahwa manusia tidak ada yang sempurna
5. SINAR MATAHARI : Melambangkan semangat dalam
mencapai kemajuan
6. WARNA KUNING EMAS : Melambangkan keluhuran
budi dan kebesaran jiwa
7. SINAR YANG KE 17 ANGKA : Melambangkan Angka
Sakti tanggal Prroklamasi Kemerdekaan Republik
Indonesia
8. DELAPAN BENTUK PADA LINGGA : Lambang Bulan
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
9. 19 BUAH BATU PADA LINGGA, 4 BUAH KAKI
TEMBIK DAN 5 BUAH ANAK TANGGA : Lambang
Tahun Proklamasi Kemerdekaan Repubil Indonesia
Tahun 1945
10.TULISAN INSUN MEDAL : Tulisan Insun Medal erat
kaitannya dengan kata Sumedang yang mengandung
arti:
a. Berdasarkan Prabu TADJIMALELA, seorang tokoh
legendaris dalam sejarah Sumedang, INSUS MEDAL
berarti (INSUN : Aku, MEDAL : Keluar)
b. Berdsarkan data di Museum Prabu GESUSAN ULUN;
INSUN berrti (INSUN: Daya, MADNANGAN: Terang)
Kedua pengertian ini bersifat mistik.
c. Berdasarkan keterangan Prof. ANWAS ADIWILAGA,
INSUN MEDAL beasal dari kata SU dan MEDANG
(SU: bagus dan MEDANG: sejenis kayu yang bagus
pada Jati yaitu huru yang banyak tumbuh di Sumedang
dulu), dan pengertian ini bersifat etimologi
Inilah sekedar Selayang Pandang Kabupaten Sumedang, yang pada hari Selasa 22 April 2008, genap berusia 430 tahun. Disi saya coba urai sejarah singkat Sumedang.
Menurut Bujangga Manik, di dekat Gunung Tompo Omas terdapat Kerajaan Kahiyangan, yang diserang pasukan Cirebon dalam masa pemerintahan Surawisesa.
Belum jelas, adakah hubungan antara Medang Kahiyangan dan Sumedanglarang. Namun pada sat Bujangga Manik memasuki Medang Kahiyangan, menurut versi lainnya, saat itu sudah terdapat kerajaan yang disebut Sumedanglarang.
Dalam Koropak 410 disbutkab, Pendiri Kerajaan Sumedanglarang tak lain adalah Praburesi Tadjimalela. Ia berkedudukan di Tembong Agung yang disebut Mandala Hibar Buana.
Masih belum jelas pula asa-usulnya tokoh Legendaris leluhur Sumedang ini. Sebab, Tadjimalela adalah nama lain dari Panji Romahyang, putra Damung Tabela Panji Ronajaya dari Dayeuh Singapura (Rintisan Penelusuran silam sejarah Jawa Barat).
Sumber lain menjelaskan, baik Kitab Waruga Jagat, Layang Darmaraja, maupun riwayat yang berdasarkan tradisi lisan yang masih hidup, disebut kan bahwa Prabu Tajimalela adalah putra Prabu Guru Aji Putih, salah seorang keturunan raja Galuh yang masih bersaudara dengan Sribaduga Maharaja I. Ia melakukan petualangan hingga ke kawasan Timur sekitar pinggiran Sungai Cimanuk.
Prabu Tajimalela masih memiliki sejumlah nama, antara lain: Praburesi Agung Cakrabuana, Batara Tuntang Buana, dan Aji Putih. Dalam Waruga Jagat yang telah disalin dari huruf Arab ke dalam tulisan latin (1117 H), antara lain dikatakan: “Ari putrana Sang Dewa Guru Haji Putih, nyaeta Sang Aji Putih.”
Kehadiran Prabu Guru Haji Putih melahirkan perubahan-perubahan baru dalam kemasyarakatan, yang telah dirintis sejak abad ke-8 oleh Sahyang Resi Agung. Secara perlahan dusun-dusun di sekitar pinggiran sungai Cimanuk itu diikat oleh suatu struktur pemerintahan dan kemasyarakatan hingga berdirilah keajaan Tembong Agung yang merupakan cikal bakal Kerajaan Sumedanglarang. Kerjaan Tembong Agung tersebut, menurut riwayat teletak di Kampung Muhara, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.
Prabu Guru Haji Putih berpytra Praburesi Tajimalela. Berdasarkan perbandingan generasi dalam Koropak 410 Tajimalela sejajar dengan tokoh Ragamulya (1340-1350) penguasa di Kawali dan tokoh Suryadewata, ayahada Batara Gunung Bitung di Majalengka.
Memang belum diperoleh keterangan sumber yang menyebut-nyebut siapa grangan istri Sang Praburesi Tajimalela. Namun demikian, dalam beberapa sumber baik lisan maupun tertulis, dikatakan Praburesi Tajimalela mempunyai dua orang putra: Prabu Gajah Agung dan Lembu Agung.
Tahta kerajaan Sumedang Larang dari Prabu Tajimalela dilanjutkan oleh putranya bernama Atmabrata yang lebih dikenal dengan sebutan Gajah Agung yang berkedudukan di Cicanting.
Kisah awal raja ini memang mirip dengan kisah awal Kejaraan Mataram. Menurut versi Babat Tanah Jawi, antara Ki Ageng Sela dengan Ki Ageng Pamanahan, KiAgeng Sela memetik dan menyimpan buah kelapa muda, lalu ia pergi. Datang Ki Ageng Pamanahan yang kemudia meminumnya. Maka kemudian yang menjadi raja Ki Ageng Pamanahan.
Demikian pula dalam naskah Layang Darmaraja, yangmengisahkan Prabu Lembu Agung dan Gajah Agung yang melanjutkan tahta kepemeimpinan dari Praburesi Tajimalela.
Dikishkan, pada suatu ketika Prabu Tajimalela memanggil kedua putra kembarnya Lembu Gung dan Gajah Agung. Prabu Tajimalela berkata kepada mereka agar ada di antara salah seorang putranya ini yang bersedia melanjutkan kepemimpinannya.
“Adinda, adindalah kiranya yang lebih tepat menjadi raja,” ujar Lembu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: